Pink Transparent Star

Tuesday, June 7, 2011

erti hadir sahabat

Kini kau nampak lesu
dalam sofa kedamaian yang kau duduk di atasnya, bersamaku.
Kau seakan memalas berucap lepas.
Padahal kau dalam tebaran aroma bunga
wanginya membuat hati dalam ria.

Kau nampak lesu.
Nampak bait-bait kalimat membisu
dalam kegamangan perasaanmu
seakan kau menanti sang waktu
di mana titik jenuh hadir memaksamu
untuk berucap dan aku menunggu.

Aku menghela nafas
menengadah dalam meredup mata.
Seketika terdengar desah gelisah darimu
dan kini kau dalam jenuh.
Waktu mendorongmu berkata
dan aku membuka mata.
Bersama sang waktu dirimu lepas kebisuan,
“Bagaimana kau melihat hadirku?
Dalam kearifan hati,
kau kan tahu hamparan keluasan
arti tanyaku padammu.
Tanamlah itu dalam pikiranmu.”

Sepatah kata dari jiwa
aku tangkap lemparan katamu sehingga aku dalam kuasa.
Aku dalam jawab demi hidup jiwamu.
Betapa aku melihatmu dalam kehormatan hati
dalam memberi dan menerima.
Betapa pemberian dan penerimaan
adalah mutiara-mutiara jiwaku
untuk dirimu, belahan jiwaku.

Jawabanmu,
“Berikan untukku ketulusanmu,
kehormatanmu dalam pemberian dan penerimaan.”

Ketulusan adalah pakaian
untuk kehormatan dalam pemberian dan penerimaan
agar tidak telanjang
tidak memamerkan diri
dan tidak pula menyombongkan diri.
Telanjang adalah pamer diri dan kesombongan diri yang halus.

Lihatlah bukti
pada kicauan burung di halaman belakang.
tak ada sangkar hanya taman yang aku berikan
karena aku tulus hidup burung dalam kebebasan.

Aku berdiri demi senyummu yang sayu.
Aku berkata dengan jiwa membara.
Aku adalah dengan kehormatannya.
Kau pun dengan kehormatannya.
Manusia di sekelilingmu adalah dengan kehormatannya.
Sehingga tatapan kita adalah penghormatan dalam pemberian dan penerimaan.

Tatkala pancaran mataku memberikan api untukmu
membakar harga kehormatanmu
adalah penyiksaan terhadap jiwamu
dan aku pun akan menerima api
diriku terbakar pula
karena kisahku tercatat dalam hukum karma.
Di antara itu semua, ketulusan berirama menyejukkan suasana.

Aku lihat kegersangan sebelah dunia kehidupan.
Pembahasannya adalah pemberian dan penerimaan yang membakar kehormatan.
Ada yang makar dan ada yang mati terkapar
Tak ada kesuburan dalam menuai kedamaian.

Aku dalam memberi
bukan pemberian raja pada rakyat jelata
yang memungkinkan hanya suguhan hampa.
Aku memberi adalah bagai rakyat memberi raja.
Pandang hormat rakyat jelata padanya.
Aku menyuguhkanmu penuh hormat yang nyata.

Aku dalam menerima
bukan penerimaan raja dari rakyat jelata.
yang memungkinkan raja memandang sebelah mata.
Tapi aku adalah bagai rakyat dalam penerimaan dari raja.
Sungguh sambutan hormat untuk rakyatnya.
Penerimaanku adalah pandang dua mata.

No comments:

Post a Comment